Pekan ini kita dihebohkan dengan peristiwa bunuh diri YBS (10th), siswa kelas IV salah satu Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Aksi bunuh diri dilatarbelakangi ketidak-mampu-an keluarga membeli buku dan pena senilai 10.000, ibu YBS menerangkan bahwa kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan, saat ini memperoleh uang memang tidak mudah. Bagi sebagian besar kalangan, nominal di atas merupakan angka yang kecil dan cukup mudah untuk diperoleh; “ga perlu sampai mengorbankan masa depan anak-lah, apalagi bunuh diri”., tetapi bagi sebagian kecil keluarga terbelakang di daerah tertinggal, angka 10.000 bukan angka biasa, dapat dipakai membeli lauk selama 3-4 hari, perlu kerja keras memperolehnya. Isu biaya pendidikan ini selaras dengan keadaan ekonomi dan sosial masyarakat, jika tak dimitigasi dalam rencana pembangunan daerah yang baik maka akan berdampak serius bagi generasi penerus di masa depan.

Menelusuri apa yang telah terjadi, pada pekan lalu kami akhirnya melakukan identifikasi langsung di dua desa mayoritas aktivitas pemberdayaan sosial-ekonomi bersama PT Astra International Tbk melalui program Desa Sejahtera Astra; Desa Mukuvoka dan Desa Wawowae, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Apa yang kami temukan sangat menggetarkan hati, hanya ada 1 Sekolah Dasar di masing-masing desa! Tak ada PAUD, TK, SMP, SMK, atau sederajat, bahkan belum ada kegiatan non-formal yang tersedia. Berdasarkan tren data disertai hasil pemetaan tersebut, kami merekomendasikan untuk dilakukannya ekspansi melalui perubahan skema pengadaan sosial-ekonomi dengan penambahkan input pilar pendidikan.

Ketika memulai implementasi pemberdayaan yang fokus pada kewirausahaan di tempat ini (01/2025), kami menyadari bahwa pemasukan masyarakat dalam lingkup industri kopi sangat terbatas dengan rataan pendapatan sebesar 1.250.000/bulan dan pengeluaran lebih besar dari UMK Ngada >2.328.669,69. Bukan hanya itu, pengeluaran dalam aspek budaya dan adat sangat tak terbendung, sukar diubah. Langkah sederhana yang kami lakukan yakni melalui pemenuhan outcome “peningkatan ekonomi masyarakat” dengan memaksimalkan potensi olahan produk komoditas kopi dalam manajemen pengolahan terpadu yang dikontrol serta dimonitoring langsung oleh PT Rumah Kopi Bajawa dan Koperasi Produsen Kopi Ekoheto Sejahtera; petani gelondongan didorong untuk mengolah gabah, produsen gabah didorong mengolah green beans, pengolah green beans wajib menjual roasted beans, hingga mekanisme pembentukkan rantai simpan-pinjam menggunakan barang. Dengan demikian, penghasilan bulanan rata-rata kepala keluarga meningkat hingga 70% (Desember, 2025). Peningkatan ekonomi masyarakat ini tentu saja diiringi dengan distribusi pelatihan dan pendampingan serta fasilitas untuk peningkatan kompetensi para petani pun kualitas barang. Meski demikian, pengeluaran masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah terberat karena beririsan langsung nilai-nilai budaya dan adat yang telah berlangsung lama (eksisting ecosystem).

Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang Desa Sejahtera Astra melalui visi “Sejahtera Bersama Bangsa”, implementasi pilar kewirausahaan perlu diimbangi dengan pembangunan pilar pendidikan guna memperkuat talent yang siap untuk masa depan (strengthening future ready talent). Tidak hanya meningkatkan dan memperkuat pondasi ekonomi setiap keluarga, tetapi paralel mendorong anak-anak petani kopi di sekolah dalam pengadaan kebutuhan fasilitas sekolah dan anak hingga beasiswa; membangun 1 rumah dengan 2-4 fondasi pilar (pendidikan, kesehatan, lingkungan).

Kami berharap melalui intervensi ini, tidak lagi terjadi kasus memilukan seperti; seorang anak sekolah dasar bunuh diri, keluarga dipaksa menerima keadaan ekonomi rendah, atau generasi emas indonesia kehilangan peluang mengenyam pendidikan. Melalui pembangunan ekosistem bisnis kopi Bajawa Flores, kami mendorong intervensi swasta dalam pengembangan ekosistem bisnis terpadu di lingkungan Kopi Bajawa Flores, pun akselerasi kolaborasi lintas elemen sebagai bagian gotong-royong membangun Nusa Tenggara Timur dari akar rumput.