Mungkin dari teman-teman ada yang pernah mengalami atau pernah mempraktikannya. Politisasi kopi merupakan skema yang diaplikasikan beberapa kelompok orang di kopi yang mana orientasinya adalah keuntungan perorangan. Sebagai contoh, ada pengepul yang datang ke satu wilayah produksi kopi hanya untuk mencari dan mengambil sample dengan iming-iming kerjasama jangka panjang. Bayangkan jika pada wilayah tersebut terdapat 100 orang petani kopi yang per orangnya dimintai sample 1 kg, baliknya si a*jing auto bawa 1 kuintal! Kami telah lama mengamati pola perilaku beberapa pegiat/aktivis kopi seperti ini. Oleh karenanya salah satu cara kami mengurangi kegiatan ini yaitu dengan langsung turun ke lapang dan sosialisasi kepada para petani/processor.
Dampak yang ditimbulkan dari adanya praktik ini sangat melemahkan para petani dan processor. Bila dihitung secara matematis, 1 kg green bean (beras kopi) merupakan hasil olah dari 8-9 kg cherry, sedangkan untuk memperoleh cherry dibutuhkan ketekunan dalam segi memanen dan pra-grading, serta proses olah yang memerlukan waktu lama untuk menghasilkan 1 kg green bean., itu pun dengan asumsi 1 pelaku dan 1 jenis proses pengolahan, bila diambil rataan maka 1 petani dapat mengeluarkan 4-5 kg (all process) kepada 1 orang tanpa dibayar. Bila dikalkulasikan, 5 kg kopi dengan berbagai macam proses mampu menghasilkan keuntungan Rp.375.000 (asumsi harga standar = Rp.75.000). Sebaliknya, para pelaku politisasi akan memperoleh keuntungan yang bahkan nilainya mencapai 150-200%. Hal ini sangat memprihatinkan, masih banyak pelaku usaha kopi yang mengambil jalan pintas dan keuntungan dari rantai produksi paling bawah (petani/processor).
Salah satu faktor pengaruh yang melatarbelakangi praktik politisasi kopi di atas yaitu rendahnya SDM di tingkat petani dan processor., ini wajar mengingat rata-rata petani/processor hanya bersekolah sampai jenjang tertinggi pada menengah atas/kejurusan. Kami tidak pernah lelah untuk terus menambal lubang masalah ini dan akan terus mengawal petani sampai benar-benar berswadaya. Kami tidak ingin ketertinggalan para petani/processor ini kemudian menjadi bumerang yang berdampak pada kualitas dan kuantitas produksi komoditas kopi. Kami ingin maju dan sejahtera bersama para petani dan processor secara kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

